VIVA   –  Kamu mungkin sering menemui kejadian, di mana tidak mampu langsung belok kiri di persimpangan yang diatur lampu lalu lin, karena terhalang oleh kendaraan asing yang ada di depan yang juga hendak melakukan hal persis.

Tak jarang instrumen tersebut kemudian dihujani suara lonceng dari belakang, yang merasa dongkol karena waktunya terbuang akibat kejadian tersebut. Padahal, di depan organ itu tidak ada halangan.

Jika kamu termasuk lupa seorang pengemudi yang membunyikan lonceng, lain kali disarankan untuk tak melakukan itu. Sebab, belum tentu kendaraan yang ada di pendahuluan melakukan kesalahan.

Berdasarkan Undang-Undang nomor 22 tahun 2009 tentang Lalu Lin dan Angkutan Jalan, dikutip VIVA Otomotif Kamis 22 Oktober 2020, pada pasal 112 ayat 3 disebutkan bahwa kendaraan tidak diizinkan untuk belok langsung ke pokok kiri, apabila persimpangan tersebut diatur oleh lampu lalu lintas.

Baca juga:   Ojol Mulai Pakai Motor Listrik, Harganya Cuma Segini

Pada persimpangan Jalan yang dilengkapi Alat Pemberi Isyarat Awut-awutan Lintas, Pengemudi Kendaraan dilarang langsung berbelok kiri, kecuali ditentukan lain oleh Rambu Lalu Lintas atau Alat Pemberi Isyarat Lalu Lin.

Lantaran pernyataan itu, bisa diartikan bahwa pada persimpangan yang diatur lampu lalu lintas, belok kiri tepat hanya diperbolehkan apabila ada tanda yang menyatakan hal itu.

Jika dilanggar dan ketahuan oleh penegak hukum, maka pengemudi siap-siap menerima sanksi karena dianggap melanggar pasal 106 ayat 4, yang menyatakan bahwa setiap pengemudi wajib mematuhi ketentuan rambu & lampu isyarat.

Macam dan besaran sanksi ada pada pasal 287, yakni pidana rumah paling lama dua bulan atau denda paling banyak Rp500 ribu.